Efektivitas Komunikasi Mempengaruhi Perilaku Masyarakat
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai atau mendengar suatu informasi yang dapat disampaikan secara bersamaan untuk sebuah kepentingan. Misalnya seperti berita, iklan, film dan lain-lain. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat komunikator menjadi lebih mudah dalam menyampaikan informasinya secara serentak. Pada era modern seperti sekarang, siapa saja dapat menyampaikan suatu informasi atau opini mereka pada platform-platform yang telah tersedia pada waktu yang bersamaan kepada orang-orang yang mereka pilih. Komunikasi secara serentak ini bisa disebut dengan komunikasi massa.
Komunikasi
massa merupakan komunikasi yang disampaikan melalui media massa. Media massa
sendiri adalah sebuah platform atau tempat yang digunakan sebagai sarana
komunikasi. Misalnya, surat kabar, majalah, radio, televisi, social media,
blog, film dan lain-lain. Menurut Freidson, A
mass communication maybe distinguished from other kinds of communication by the
fact that it is addressed to a large cross-section of a population rather than
only one or a few individuals or a special part of the population. It also
makes the implicit assumption of some technical means of transmitting the
communication in order that the communication may reach at the same time all
the people forming the cross-section of the population. Yang artinya,
Komunikasi massa dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan
bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagi
kelompok, dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus
populasi. Komunikasi massa juga mempunyai anggapan tesirat akan adanya alat-alat
khusus untuk menyampaikan komunikasi supaya komunikasi itu dapat diterima pada
saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat.
Dalam
komunikasi massa, komunikator dapat mengatur jalannya informasi yang
disampaikan dan yang diterima. Bagaimana bisa? Dalam sistem komunikasi
interpersonal, misalnya ketika seorang dosen menjelaskan tentang sosiologi,
mahasiswa dapat mengarahkan perilaku dosen. Bila dosen berbicara keliru,
mahasiswa dapat menegurnya dan mengembalikan dosen kepada jalan yang lurus.
Begitupun sebaliknya. Antara komunikator dan komunikan secara bersama-sama
dapat mengendalikan arus informasi sesuai kehendak. Komunikan dapat menambah
informasi yang diberi komunikator. Dan komunikator dapat mengubah informasi
yang ia sampaikan karena reaksi yang komunikator terima dari komunikan. Menurut
Cassata dan Asante (1979 : 12), bila arus komunikasi hanya dikendalikan oleh
komunikator, situasi dapat menunjang persuasi atau bujukan yang efektif.
Sebaliknya jika masyarakat atau khalayak dapat mengatur arus informasi, situasi
komunikasi akan mendorong belajar lebih efektif. Dari penjelasan ini kita dapat
memahami mengapa belajar langsung dari guru atau dosen lebih mudah dimengerti
daripada sekedar membaca buku.
Adapun suatu
proses pembentukan perilaku terhadap masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang berasal dari dalam diri
individu itu sendiri, faktor-faktor tersebut, antara lain:
- Persepsi. Persepsi adalah pengalaman
yang dihasilkan melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan
sebagainya.
- Motivasi. Motivasi diartikan sebagai
dorongan untuk bertindak agar mencapai suatu tujuan tertentu, hasil dari
dorongan dan gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku.
- Emosi. Perilaku juga dapat timbul karena emosi,
aspek psikologi yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan
jasmani sedangkan keadaan jasmani merupakan hasil perilaku bawaan.
- Belajar. Belajar diartikan sebagai suatu
pembentukan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan.
Dari
faktor-faktor tersebut, komunikator dapat memanfaatkan pengetahuan yang ia
dapat untuk mempengaruhi perilaku khalayak. Khalayak sendiri dianggap sebagai
kepala kosong yang siap untuk menampung seluruh pesan komunikasi yang
dicurahkan kepadanya (Dervin, 1981 : 74). Pesan komunkasi dianggap sebagai
benda yang dilihat sama baik oleh komunikator dan komunikan. Reaksi khalayak
terhadap informasi yang mereka dapatkan bergantung terhadap persepsi, motivasi,
emosi, nilai dan kepercayaan masing-masing individu. Dalam ilmu sosiologi, adapun reaksi berurutan
yang pasti dialami oleh masing-masing individu khlayak, antara lain:
- Awareness
(kesadaran) , yaitu oang tersebut menyadari atau mengetahui stimulus
(objek) terlebih dahulu.
- Interest
(tertarik) , yaitu orang mulai tertarik terhadap stimulus.
- Evaluation
(menimbang baik atau tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini menandakan
sikap responden sudah lebih baik lagi.
- Adoption
(berperilaku baru) , subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Menurut
Raymond A . Bauer, media massa juga berpengaruh terhadap reaksi khlayak ini,
namun pengaruh ini disaring, diseleksi, bahkan mungkin ditolak sesuai dengan
faktor personal yang mempengaruhi reaksi mereka.
Selain itu, peran Opinion Leader juga sangat penting dalam efektivitas komunikasi
massa ini. Opinion Leader atau
pemimpin opini adalah individu yang memimpin dalam mempengaruhi pendapat orang
lain tentang suatu inovasi. Tanpa peran opinion leader, komunikasi massa
terbatas sekali efektivitasnya terhadap khalayak. Selain tidak hanya mengandalkan
saluran media massa sebagai satu-satunya saluran yang ampuh, mereka juga
berinteraksi dengan masyarakat secara langsung. Opinion Leader dapat berperan
aktif melaui media massa untuk
memperkenalkan inovasi atau informasi terbaru yang akan mereka sampaikan. Dekatnya
peran opinion leader terhadap
masyarakat, besar kemungkinan dapat menjadi tolak ukur kefektivitasan
komunikasi massa itu sendiri. Kepandaian seorang opinion leader dalam menyampaikan informasi dapat berpengaruh pada
reaksi masyarakat. Pemilihan dan penafsiran isi oleh opinion leader terhadap khalayak dipengaruhi oleh pendapat dan
kepentingan yang ada dan disesuaikan oleh norma-norma dari suatu kelompok
masyarakat. Makin sempurna monopoli komunikasi massa, maka semakin besar pula
kemungkinan perubahan perilaku dapat ditimbulkan ke arah yang dikehendaki
(McQuail, 1975 : 48).
Jadi kesimpulannya, perilaku masyakat dapat
dikatakan terpengaruh tergantung keefektivan komunikasi massa dalam
menyampaikan informasinya. Semakin meyakinkan dan pentingnya sebuah informasi,
maka akan semakin memancing reaksi masyarakat terhadap informasi yang mereka
terima yang disesuaikan dengan persepsi, pengetahuan dan norma-norma kelompok
yang dimiliki oleh individu itu sendiri. Media massa dan opinion leader yang merupakan
bagian terpenting dari keefektivan komunikasi massa dapat menjadi salah satu
faktor terpengaruhnya perilaku masyarakat dan memancing reaksi yang tak
terduga.
Daftar
Pustaka
Rakhmat,
Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi.
Bandung: CV Remadja Karya
Komentar
Posting Komentar